PATUNG MACAN KURUNG

Macan kurung adalah sebuah karya seni ukir khas Jepara  yang muncul di tengah-tengah tekanan sistem pemerintahan  kolonial dan adat-adat  budaya feodal. Sejaman dengan R.A Kartini

Macan kurung, adalah sebuah karya seni ukir khas Jepara yang berkembang sejak zaman RA Kartini dan mengalami kejayaan selama kurang lebih satu abad sesudahnya. Macan kurung muncul di tengah-tengah sistem pemerintahan kolonial dan adat-istiadat budaya feodal. Diduga karya seni ini sebagai ekspresi simbolis perlawanan para perajin ukir atas tekanan hidup yang dirasakan saat itu oleh kolonial. Karya seni itu berbentuk seekor macan yang hidup di dalam sebuah kurungan. Di dalam kurungan terdapat pula bola yang dapat menggelinding dan rantai pengikat macan.

. Bagian atas kurungan sering diberi berbagai hiasan berbentuk binatang, seperti burung, naga, ular, dan sebagainya. Karya seni ini mempunyai keunikan tersendiri dari teknik pembuatannya.

Tempat asal macan kurung merupakan salah satu wilayah yg sangat bersejarah dan paling fenomenal dalam ranah pertumbuhan kerajinan ukir kayu Jepara.yaitu Blakanggunung. Disebut macan kurung Belakanggunung karena karya seni ini lahir dari tangan terampil seniman ukir masyarakat Dukuh Belakang gunung Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara.  Sebuah mitos keajaiban pahat pusaka dan sejarah perkembangan ukiran Jepara tidak lepas dari dukuh tersebut.
Kegiatan mengukir itu terus tumbuh dan berkembang sampai sekarang sehingga menjadi pilar utama terciptanya kesejahteraan masyarakat setempat.

Asal muasal munculnya seni ukir Macan Kurung tak lepas dari sosok pahlawan wanita Indonesia yang lebih dikenal sebagai pahlawan emansipasi. Saat itu, Kartini remaja sedang menyiapkan “harta karun Jepara” untuk ditunjukkan pada dunia internasional. Pameran Karya Perempuan Pertama di Den Hag; itulah alasan mengapa Kartini yang berusia 19 tahun mengumpulkan banyak pengrajin ukir di Jepara. Mereka berlomba-lomba membuat kreasi kriya untuk Ndoro Ayu ini. Dari sinilah pertama kali seni ukir Macan Kurung dikenal dunia Eropa. Bahkan Ratu Wilhelmina sangat mengagumi bentuk dan filosofi Macan Kurung dan memberi “izin impor” sebuah negeri terjajah nun jauh dari sana yang disebut Hindia Belanda.