Spriritualitas Ratu Kalinyamat dapat dimaknai sebagai hidup dengan kandungan filosofis yang sangat tinggi. Perbedaan tafsir atas wuda atau telanjang, sesungguhnya dapat dikembalikan pada praktik spriritualialitas sang Ratu sendiri yang bersumber pada ajara ajaran tasawuf islam. Di masa itu praktik tasawuf Islam sudah di kenal dan menjadi pedoman bagi lingkungan keraton kerajaan. Ratu Kalinyamat mengajarkan hakikat hidup yang dikenal dengan rahasia huruf Alif sebagai ajaran Tauhid tingkat tinggi. Ajaran rahasia huruf Alif yang berorientasi tauhid (Keesaan Tuhan). Juga tercermin secara monumental dalam tulisan bahasa Arab pada gapura pintu masuk kompleks Masjid Mantingan dan Makam Ratu Kalinyamat, yaitu Kalimat Syahadat.
Dalam konteks posisi perempuan di zamannya, Ratu Kalinyamatmembuktikan bahwa dirinya bukan figur perempuan yang terkekang atau dibatasi tradisi. Justru ternyata dizaman itu, di abad ke 16, perempuan Jawa dari kalangan bangsawan tidak dipenjara oleh feodalisme yang kaku dan menindas. Fakta bahwa Ratu Kalinyamat sejak muda memerankan diri secara aktif di bidang politik-kekuasaan, merupakan bukti mengenai nalar kekuasaan di periode itu sebagai nalar yang terbuka. Dalam diri Ratu Kalinyamat, tidak didapati karakter feodalisme yaitu perempuan sebagai kanca wingking (teman belakang) kelas dua. Di masa Ratu Kalinyamat, di masa ratu kalinyamat perempuan benar benar memiliki posisi tawar yang setara, bahkan diwilayah pemegang tampuk kekuasaan. dalam ruang sejarah kesultan di pesisir Jawa, Ratu Kalinyamat telah melakukan perlawanan Tradisi melawan tradisi patriarkhi, jauh sebelum isu keseteraan bergulir di era modern. ( hadi Priyanto. 2018. Ratu KalinyamatRainha de Japara)
